Rabu, 18 Mei 2011

Asupan Zat Giz

Fauzi Arasj

Asupan zat gizi dapat diketahui melalui metode food recall 24 jam, dan hasil ukurnya di bandingkan dengan kebutuhan zat gizi yang dianjurkan (AKG), di samping itu dapat digunakan Semiquantitative Food Frequency Questionneirs untuk melihat tingkat keseringan penggunaan bahan makanan menurut satuan waktu tertentu. Ke depan, diperlukan adanya suatu nutritional biomarker untuk mengurangi kesalahan dalam menafsirkan data yang dikumpulkan di lapangan. Asupan zat gizi protein, lemak dan karbohidrat  yang tepat sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan fisik dan mental serta diperlukan untuk pemeliharaan tubuh.  Sedangkan mikronutrien mempunyai peran diberbagai sel sistem imun dan sel lain di dalam tubuh, terutama memainkan peran sebagai ko-faktor di dalam sintesa protein dan asam nukleat, yang akan menstimulasi dan memelihara fungsi seluruh bentuk sel imun, di samping berperan sebagai antioksidan (seperti vitamin E, Vitamin A dan Vitamin C) yang langsung bereaksi dengan radikal bebas dan sebagai ko-faktor (seperti seng, copper dan selenium) di dalam system enzim.  Bagaimana terjadinya mekanisme reaksi ini yang secara langsung meningkatkan fungsi imun sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.  

a)   Energi 
Asupan energi  mempunyai keterkaitan erat  dengan berat badan dan umur dalam bulan. Suhu lingkungan yang rendah akan menaikkan penggunaan energi dikaitkan dengan tubuh yang menggigil  sebaliknya jika berada pada suhu lingkungan yang tinggi maka energi akan dikeluarkan untuk pendinginan. Kebutuhan kalori anak perhari sampai berumur 5 tahun dimulai dengan angka 1000 Kkal dan di tambah 100 Kkal untuk tiap tahun umur, dengan demikian untuk anak umur 1 tahun dibutuhkan energi sebesar 1100 Kkal/hari dan untuk anak umur 2 tahun dibutuhkan sebesar 1200 Kkal per hari,  sedangkan menurut Depkes RI, kebutuhan energi untuk bayi dan balita 100 – 120 Kkal per kilogram berat badan.Sumber energi utama di alam adalah karbohidrat, pencernaan karbohidrat di mulai di mulut, setelah makanan dicampur dengan enzim amilase dan sebagian besar terjadi di dalam usus halus dengan bantuan enzim disakaridase yang dikeluarkan oleh sel mukosa usus halus berupa maltase, sukrase dan laktase. Hidrolisa disakarida terjadi di dalam mikro vili usus. Pati non karbohidrat atau serat makanan akan mengalami fermentasi oleh mikroorganisme dalam usus besar. Peran utama karbohidrat adalah sebagai penyedia glukosa bagi sel tubuh yang kemudian akan dirubah menjadi sumber energi bagi sel-sel otak, sel-sel saraf dan sel darah merah.

b)  Protein
Protein merupakan bagian dari semua sel hidup, seperlima dari bagian tubuh terdiri dari protein dan setengahnya ada di dalam otot, seperlimanya berada di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluhnya  ada di dalam kulit dan selebihnya ada di dalam jaringan dan cairan tubuh, dengan fungsi membangun dan memelihara sel sel dan jaringan tubuh. Pencernaan protein di mulai di usus besar menjadi asam amino, dengan bantuan asam lambung terjadi denaturasi sehingga enzim pencernaan dapat memecah ikatan peptida, selanjutnya pencernaan protein dilakukan dalam usus halus dengan campuran enzim protease, setelah pankreas mengeluarkan cairan yang sedikit basa dan mengandung berbagai prekursor protease seperti tripsinogen, kimotripsinogen, prokarboksipeptidase dan proelastase, yang akan menghidrolisis ikatan peptida menjadi ikatan peptida yang lebih pendek yaitu tripeptida, dipeptida dan asam amino. Hidrolisa dapat terjadi setelah protein memasuki sel-sel mukosa dengan hasil akhir adalah asam amino dan akan segera diabsorbsi segera dalam waktu 15 menit setelah makan.
Kebutuhan protein untuk pemeliharaan diperlukan sebanyak 1,1 gr/kg/hari, sedangkan untuk pertumbuhan di tambah sebanyak 50%, sehingga kebutuhan protein untuk anak usia 1-4 tahun adalah 1.2 g/kg/hari dan untuk 4-6 tahun sebanyak  1,1 g/kg/hari, kebutuhan protein bayi/balita lebih tinggi dari kebutuhan kelompok umur di atasnya yang mencapai 2-2.5 g/kilog berat badan.

c)   Karbohidrat
Karbohidrat merupakan campuran organik yang sebagian besar terdapat  di dalam buah-buahan, sayuran, umbi-umbian dan tepung, dan merupakan bahan penghasil energi terbesar di dalam tubuh manusia. Glukosa adalah energi utama yang didapat dari pati, sukrosa dan laktosa, cadangan glikogen di dalam tubuh atau dari sintesa glyconeogenic precursors seperti asam amino dalam tulang, menyumbang 4 kkal/g. Umur, jenis kelamin, dan aktifitas fisik sangat mempengaruhi kebutuhan kalori. 

d)   Lemak
Lemak mempunyai peran penting dalam metabolisme energi dan simpanan energi tubuh, merupakan zat essensial untuk pertumbuhan jaringan, perkembangan otak dan fungsi penunjang lain sepanjang hidup. Kebanyakan lemak yang terdapat di dalam diet berbentuk triacylglycerols dengan 3 asam lemak yang terikat kepada glycerol. Rekomendasi asupan lemak total yang dikeluarkan untuk bayi usia 4-6 bulan, mencapai 40-60% dari total energi yang akan digunakan  untuk pertumbuhan dan cadangan. Untuk umur 6-36 bulan, asupan lemak diturunkan secara bertahap, tergantung dari aktifitas anak menjadi 30-35% total energi. Peneliti lain, juga menganjurkan asupan lemak untuk anak umur 6-12 bulan sekitar 28-30%  dari energi total.  Asupan asam lemak jenuh tidak lebih dari 10% total energi dan PUFA diberikan 6-10%.  Fungsi lemak adalah merupakan sumber energi dan simpanan lemak dalam tubuh merupakan cadangan energi tubuh yang berasal dari kelebihan konsumsi salah satu atau kombinasi dari karbohidrat, protein dan lemak. Absorbsi lemak terutama terjadi di dalam jejunum.

e)   Vitamin dan mineral
              Peran dari beberapa zat gizi mikro yang esensial terhadap pertumbuhan, sudah terlihat melalui berbagai penelitian hewan coba, maupun penelitian klinis melalui suplementasi  single micronutriens pada manusia. Zat besi, seng dan vitamin A, ternyata menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan pertumbuhan. Tubuh membutuhkan vitamin dan mineral untuk tetap sehat,  vitamin serta mineral banyak terlibat dalam reaksi kimia, antara lain membantu merubah karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi ketika dibutuhkan oleh tubuh.
              Vitamin B atau asam folat mempunyai peran yang serius di dalam sel manusia, dan berperan dalam pembentukan darah, menghasilkan energi dan berfungsi dalam sistem saraf. Kekurangan konsumsi vitamin B akan menyebabkan otak dan tulang belakang tidak tumbuh sempurna.   Vitamin A merupakan salah satu zar gizi mikro yang diperlukan untuk meningkat daya tahan tubuh dan kesehatan mata. Anak yang kekurangan vitamin A bila bersamaan dengan penyakit campak, diare dan penyakit infeksi lain akan dapat menyebabkan kematian. Infeksi akan dapat menghambat penyerapan zat gizi, serta mengeluarkan simpanan vitamin dari tubuh, jika tidak ditanggulangi dengan cepat akan dapat menyebabkan kebutaan.
         Zat besi merupakan mineral penting yang banyak ditemukan dalam otot, berfungsi untuk membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh, membantu pertumbuhan dan fungsi kognitif pada masa anak anak.  Defisiensi zat besi pada anak dihubungkan dengan kejadian anoreksia, penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan  hambatan pertumbuhan, serta terjadinya gangguan prilaku dan fungsi kognitif.
         Seng merupakan mineral terbesar kedua yang ada di dalam tubuh setelah besi. Dampak dari kekurangan seng tingkat sedang mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan, anorexia, lesu dan hypogonadism khususnya pada anak lelaki (wasting/kurus).  Seng mempunyai peran besar dalam membangun hampir seluruh metaloenzymes, perkembangan imunitas humoral dan intracelluler, proses transkripsi dan ekspresi gen.     Studi tentang pemberian suplementasi seng dan zat besi selama 24 minggu pada bayi pendek menunjukkan bahwa bayi pendek yang diberi suplementasi terjadi peningkatan  panjang badan namun tidak terjadi peningkatan berat badan. Studi tentang pemberian kalsium pada anak umur 12-36 bulan selama 3 bulan menunjukkan hasil bahwa  anak yang diberi kalsium pertumbuhan tulangnya 1,3 kali lebih baik daripada anak yang tidak diberi kalsium.

Kepustakaan:

1.         Scrimshaw NC, Waterlow JC, Beat schurch. Energy and Protein requirements, Proceedings of an IDECG workshop. European Journal Of Clinical Nutrition. 1996; 50, Supplement 1.  http://www.unu.edu/Unupress/food2/UID01E/uid01e00.htm
2.        Potischman N. Biologic and Methodologic issues for nutritional biomarkers. J Nutr,2003; 133: 875S-880S
3.        Murrey RK, Daryl KG, Peter AM, Viktor WR. Biokimia Harper, ed 24. EKG Kedokteran. Jakarta, 1997
4.        Stipanuk MH. Biochemical and Physiological Aspects of Human Nutrition. WB Sounders. Phyladelphia, 2000
5.        MHC-Human Nutrtion Research. Macromineral http://www.mrc.hnr.cam.ac.uk/index.html
6.        Shenkin  A. Joint Symposium of Nutrition and Dep of Pediatric Fac of medicine, 11 Maret University and Centre of Human Nutrition, Univ Sheffield, UK. Surakarta, Indonesia, 2001
7.        Calories-calculating A Childs daily needs. Http://www.drpaul.com/nutrition/calories.html. Unduh 22 September 2004
8.        Departemen Kesehatan RI. 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang.Depkes RI, Jakarta 2002
9.        Almatsier S. Prinsip dasar Ilmu Gizi. Gramedia, Jakarta. 2003
10.      WHO-UNU. Energy and Protein requirement.1991
11.       Uauy R, Castillo C. Implication For Nutrient Composition of Fortified Complementary Food. J Nutr  2003;133:2962S-2972S
12.      Rivera JA, Hotz C, Teresa GC, Lynette N, Armando GG. The effect of micronutrient deficiencies on child growth: a Review of results from community-based supplementations trials. J Nutr  2003;133:4010S-4020S
13.      Calgary Health Region. Folic Acid and Your Health. Calgary Health Region.  http://www.calgaryhealthregion.ca/
14.      Branca F. Nutritional Solution to mayor health problems of preschool children: how to optimize growth and development. J Paediatr Gastroenterology and nutrition, vol supplement, December 2006; s4-s7
15.      Purwaningsih E. The Effect of Zinc and Iron Supplementation on Growth in Normal, Anemic and Zinc Deficienct Infants: A Field Triel in Indramayu, West Java. M.Med Indonesiana 2004; 39 (4): 162-171
16.      Saraswati E, Budiman B. Pertumbuhan Tulang Anak Umur 12-36 Bulan Pasca Intervensi Gizi. Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan, 2000; 23. Unduh 11 Januari 2010

Status Gizi


by Fauzi 'Arasj

Status Gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang sebagai akibat dari interaksi antara makanan, penyerapan, penggunaan zat gizi, dan lingkungan dimana orang berada. Status gizi akan mencapai titik optimal, bila kebutuhan  tubuh akan zat gizi dipenuhi dari konsumsi makanan, namun kondisi ini juga dipengaruhi oleh zat gizi yang di konsumsi pada masa lampau, serta banyak faktor lain seperti kualitas maupun kuantitas asupan zat gizi dan kondisi kesehatan fisik. 
Kurang gizi didefinisikan oleh WHO sebagai terjadinya ketidak seimbangan di tingkat seluler antara asupan zat gizi dan energi dengan kebutuhan tubuh untuk tumbuh, pemeliharaan dan fungsi khusus lainnya. Kurang gizi mempengaruhi seluruh sistem organ tubuh, di samping mempunyai dampak terhadap perkembangan fisik dan mental, seperti pertambahan berat badan dan pertambahan linier yang lambat, mengganggu fungsi imunitas, di samping akan terjadi perubahan perilaku termasuk mudah tersinggung, apatis, perhatian yang rendah terhadap kondisi lingkungan, kurang percaya diri dan secara permanen berpengaruh terhadap kognitif anak.
Definisi lain tentang keadaan gizi seseorang adalah sebagai ekspresi atau hasil akhir keseimbangan antara masukan dan keluaran energi serta zat gizi dalam kurun waktu tertentu oleh suatu organisme termasuk manusia. Keseimbangan ini dipengaruhi oleh determinan biologis terutama infeksi, penyakit parasit dan kelainan psikologik. Anak anak yang kekurangan makan akan nampak kurus dan bila berlangsung cukup lama, akan tumbuh sebagai anak yang relatif pendek/cebol di banding dengan teman sebaya yang tidak mengalami kekurangan pangan. Anak yang kurus bila diberi makan dengan cukup baik dari segi kuantitas maupun kualitas, akan menjadi baik kembali. Pengurusan, merupakan gambaran kekurangan gizi yang bersifat akut. Gangguan pertumbuhan linier (melambatnya pertambahan dalam tinggi badan) merupakan akibat kekurangan gizi yang bersifat kronik.
Pengukuran antropometri merupakan salah satu cara untuk mengetahui status gizi, pertama kali dimunculkan oleh Brozek dan didefinisikan oleh Jellife sebagai pengukuran berbagai dimensi fisik dan komposisi tubuh menurut tingkatan umur. Keuntungan penggunaan antropometri antara lain caranya yang sederhana, penggunaan alat yang murah, dapat digunakan oleh tenaga yang tidak profesional, memiliki presisi dan akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan kerugian penggunaan antropometri antara lain tidak akuratnya instrument, oleh karena itu harus digunakan metode yang tepat, anak yang tidak bisa tenang pada saat pengukuran maka diminta keterlibatan orang tua, kesalahan dalam membaca hasil serta  kesalahan dalam pencatatan.  Kesalahan dalam pengukuran akan dapat diminimalkan dengan melakukan pelatihan tim menggunakan teknik standar baku, presisi dan kalibrasi instrumen.
1.      Parameter 
Ukuran antropometri yang banyak dipakai saat ini antara lain adalah lingkar kepala, panjang badan, tinggi badan, tinggi lutut, panjang kaki, lebar rentang tangan, berat badan, luas siku.  Bila  tidak terdapat hasil yang akurat pada saat melakukan pengukuran berat badan atau tinggi badan, maka dapat dipakai cara untuk memperkirakan tinggi, antara lain panjang rentang tangan, tinggi lutut dan tinggi duduk. Untuk mendapatkan nilai yang akurat  pada saat melakukan pengukuran di lapangan, maka pada saat melakukan pengukuran perlu dilakukan pengukuran 2 kali dan diambil reratanya dengan perbedaan tidak lebih dari 0,5 sentimeter. jika terjadi perbedaan di atas 0,5 sentimeter dari 2 pengukur maka dilakukan pengukuran ulang oleh pengukur ke 3 yang mempunyai kemampuan lebih dari 2 pengukur pertama.
Indek antropometri didapatkan dari kombinasi hasil ukur, yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil melalui persamaan regresi, untuk memprediksi densitas tubuh dan menghitung lemak tubuh. Persamaan ini dibuat atas dasar pengukuran anak yang sehat, bebas dari kurang gizi atau kelebihan gizi atau subjek yang lebih tua pada berbagai etnik dan ras. Untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan anak dapat di lakukan dengan membandingkan ukuran panjang/tinggi menurut umur, berat badan menurut umur dan berat badan menurut panjang/tinggi badan.
a.      Umur
Umur merupakan faktor penting dalam penentuan status gizi individu,  umur yang tepat merupakan indikator penting yang digunakan dalam melakukan transformasi nilai, sehingga dapat menempatkan titik yang cocok dalam kurva. Umur baru akan memberikan arti jika telah dihubungkan dengan tinggi badan, berat badan, LILA dan berbagai ukuran antropometri lain, melalui nilai skor-z atau persentil yang memberikan informasi tentang status gizi. 
Penentuan umur yang tepat merupakan salah satu kesulitan yang paling sering ditemukan di lapangan, karena  banyaknya orang yang tidak tahu kapan tanggal lahirnya dan tidak jarang waktu kelahiran seseorang dikaitkan dengan saat terjadinya sebuah fenomena alam atau suatu peristiwa tertentu yang dekat dengan waktu kelahiran anak, dissamping adanya daerah yang mempunyai kalender sendiri yang perhitungannya berbeda dengan yang digunakan secara umum, seperti di pulau Bali dengan penanggalan tahun saka dan di pulau jawa dengan penanggalan jawa serta adanya penanggalan berdasarkan bulan arab. Masalah lain adalah pelaporan umur  umumnya dilakukan dengan pembulatan pada bulan genap seperti bulan ke 6 dan ke 12, 18, 24 bulan, yang mengakibatkan terjadinya kesalahan fatal karena mempengaruhi perhitungan selanjutnya, yang akan memunculkan fluktuasi angka pada angka angka tertentu saja. Ke depan, pencatatan umur harus disertai dengan melihat dokumen kelahiran yang bersangkutan.
b. Berat badan
Berat badan merupakan ukuran antropometri terpenting dan tersering digunakan, yang akan memberikan gambaran massa jaringan, yang juga digunakan untuk menilai pertumbuhan, terutama pada masa usia kanak. Berat badan anak mempunyai fluktuasi yang sangat cepat dari waktu ke waktu, karena mudah dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi dalam waktu relatif singkat (misalnya,  perubahan konsumsi makanan atau penyakit-penyakit infeksi). Oleh karena itu ukuran berat badan, baik berupa berat badan menurut umur (BB/U), maupun BB/TB dapat memberikan gambaran status gizi masa kini.
Perubahan berat badan individu yang sehat bervariasi ± 0,5 kg/hari. Pada saat tubuh dalam kondisi sakit akut atau kronis,  terjadi ketidak seimbangan asupan energi dan protein, maka tubuh akan memanfaatkan energi (termasuk protein) endogenous sebagai bahan untuk reaksi metabolik, akibatnya berat badan akan menurun. Ukuran berat badan tidak akan berarti, jika pada saat pengukuran tubuh mengalami edema, asites, dehidrasi, diuresis dan adanya tumor, oleh karena itu pengukuran harus di tambah dengan mengukur LILA dan triceps skinfold thickness. 

c. Tinggi /Panjang badan
Tinggi/Panjang badan tidak terpengaruh oleh kejadian dalam waktu singkat/mendadak. Pada anak yang penderita Kurang Energi Protein (KEP) selalu ditemukan gangguan pertumbuhan, karena itu tinggi badan merupakan indikator yang baik bagi asupan energi protein masa lalu, dan indikator yang baik bagi pertumbuhan kerangka tubuh.
Pada anak yang penderita Kurang Energi Protein selalu ditemukan gangguan pertumbuhan tubuh, karena itu tinggi badan merupakan indikator yang baik bagi status energi protein masa lalu. Salah satu tolok ukur untuk melihat perkembangan kualitas manusia adalah dengan melihat pertumbuhan fisik, yaitu pertumbuhan tinggi badan anak balita dari waktu ke waktu. Ukuran antropometri  sensitif pada bayi dan anak dan banyak digunakan sebagai indikator status gizi.
2.      Pembakuan Indikator
Ada 3 cara yang dapat digunakan untuk menentukan satus gizi anak  yaitu, menggunakan skor-z atau skor SD, persentil dan persen median. Skor-z dikenal sebagai cara terbaik untuk menganalisis dan mempresentasikan hasil pengukuran antropometri karena memiliki beberapa keuntungan daripada cara yang lain. Skor-z dengan tepat dapat menentukan kondisi kejadian gizi kurang. WHO telah memperkenalkan standar pertumbuhan yang baru untuk bayi dan anak sampai usia 5 tahun, yang memungkinkan digunakan untuk melihat pertumbuhan anak diberbagai belahan dunia.
Pengukuran antropometri sebaiknya dilakukan berpasangan dan independen sesamanya, jika hasil pengukuran berbeda melebihi standar yang ditentukan misal untuk berat badan terdapat perbedaan hasil ukur lebih dari 100 gram dan untuk tinggi badan terdapat perbedaan tinggi/panjang lebih dari 7 milimeter, maka harus dilakukan pengukuran ulang atas kedua hasil ukur oleh petugas ahli yang independen.  Telah dibuktikan bahwa pada saat melakukan pengukuran panjang badan dan tinggi badan terdapat terdapat perbedaan sebanyak 0,73 sentimeter, oleh karena itu ketika akan menganalisis hasil ukur panjang dan tinggi badan maka hasil ukur antara panjang badan harus di tambah terlebih dahulu sebanyak 0,73 sentimeter. Kurva pertumbuhan merupakan representasi dari pertumbuhan fisiologis anak dan dapat diaplikasikan pada semua anak diberbagai tempat tanpa memperhatikan etnik, status sosial ekonomi dan cara makan.
Skor-z merupakan penyimpangan nilai ukur terhadap nilai median pengukuran dibagi dengan standar deviasi referen populasi, hasilnya dapat mencerminkan status anak gizi anak. Skor-z merupakan interpolasi hasil ukur dengan skala linier, tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin subjek dan dalam perhitungannya menggunakan nilai statistik seperti nilai mean, standar deviasi, standar eror dan distribusi frekuensi. WHO merekomendasikan penggunaan skor-z untuk mengevaluasi data antropometri dari negara yang mempunyai pendapatan rendah. Hal ini menguntungkan negara dengan penghasilan rendah, karena individu yang berada jauh di bawah persentil referen dapat diklasifikasikan secara tepat.  Untuk mengitung nilai skor-z individu dapat dilakukan menggunakan program Epi-info atau menggunakan tabel standar pertumbuhan anak WHO.

a.      Tinggi/panjang badan menurut umur
TB/U  merupakan ukuran pertumbuhan linie, untuk mengukur  status kesehatan dan status gizi masa lalu, dan memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis. Rendahnya nilai TB/U yang didefinisikan sebagai pendek, merupakan refleksi dari proses patologik, karena  anak gagal mencapai pertumbuhan linier yang seharusnya. Hasil ukur disebut dengan anak pendek yaitu ketidakcukupan tinggi badan relatif terhadap umur, yang disebabkan oleh karena ketidakcukupan asupan makanan, kualitas makanan yang rendah, tingginya kesakitan/morbiditas atau kombinasi ketiganya. Kondisi ini banyak ditemukan pada negara miskin dan di negara yang mempunyai pendapatan rendah. Kejadian rendahnya nilai ukur panjang badan menurut umur  banyak terjadi pada anak di usia tahun ke-dua atau tahun ke-tiga, pada situasi lain rendahnya nilai TB/U  mungkin telah terjadi sejak  dini, di usia 3-6 bulan yang disebabkan oleh karena penyebab yang telah berlangsung sejak lama, akibatnya, akan menurunkan nilai ukuran tubuh ketika dewasa, berhubungan dengan kapasitas kerja dan merugikan hasil reproduksi pada wanita.  
 
b.      Berat badan menurut tinggi/panjang badan 
                 BB/TB merupakan ukuran berat badan relatif terhadap tinggi badan. Situasi BB/TB yang rendah pada anak-anak digambarkan sebagai kurus tinggi yang merupakan refleksi dari proses patologik sebagai kegagalan untuk mencapai berat yang dibutuhkan relatif terhadap tingginya atau kehilangan berat badan/kurus. Anak pendek adalah indikasi seorang anak yang gagal dalam mencapai garis pertumbuhan normal, sebagai akibat telah terjadinya masalah gizi suboptimal, yang erat kaitannya dengan masalah ekonomi yang rendah. Banyak pembuktian yang menunjukkan anak pendek telah mulai terjadi sejak umur anak 3 bulan. Pada anak yang anak pendek, berat badan mungkin tepat terhadap tinggi/panjang badan, sedangkan pada kondisi wasting, berat badan sangat rendah terhadap tinggi/panjang badan, sebagai akibat terjadinya defisit pada jaringan atau lapisan lemak.   BB/PB (panjang badan) merupakan ideks yang banyak digunakan untuk mengidentifikasi anak yang menerima keuntungan dari program intervensi. Indek ini lebih sensitif terhadap perubahan status gizi daripada TB/U. di samping itu indek BB/TB sering digunakan sebagai alat ukur status gizi di RS untuk mengidentifikasi kejadian wasting. BB/TB juga memberikan gambaran tentang masalah gizi akut.

Kepustakaan
1.      Winarno, FG. Biokima Pangan dan Gizi. Gramedia, Jakarta. 1990
2.      Jalal F, Sukirman. Pemanfaatn Antropometri Sebagai Indikator Sosial Ekonomi, Gizi Indonesia, 1990; 14(2): 25-36
3.      Alpers DH, Stenson WF, Bier DM. Manual of Nutritional Therapy, 4 ed. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia 2002
4.      Grigsby DG. Malnutrition http://www.emedicine.com.  unduh 26 april 2006
5.      Fatimah Muis, S. Keadaan Gizi Kelompok Rawan, Tinjauan sebelum dan selama masa kiris. Pidato pengukuhan Guru Besar Madya dalam Ilmu Gizi pada Fakultas Kedoketeran Undip Semarang, 3  Februari 2001, 7-8
6.      Gibson RS. Principles of Nutritional Assessment. Oxford University Press, 2005
7.      Lee  RD, Nieman DC. Nutritional Assassment. Ed 3. Mc Graw Hill Higher Education. 2003  www.mbhe.com 
8.      Kuczmarski RJ, Cynthia LO, Guo SS, Laurence MGS, Katherine MF, et all,  2000 CDC Growth Chart For United States: Methods and Development. WHO Series 11 no 246
9.      WHO. Child Growth Standard. Executive Summery. Length/height for age, weight for length- weight for   height and body mass indexes for age. Methods and Development.  Department of Nutrition for Health and Development. 2006
10.  Woodruff  BA, Arabella Duffield. Assessment Of Nutritional Status In Emergency-Affected Populations. Web: http://acc.unsystem.org/scn/
11.         Abu Naim D. Aplikasi antropometri sebagai alat ukur status gizi di Indonesia, Gizi Indonesia, 1990 :14 (1)
12.         Samsuddin. Peran Antropometri Dalam Menegakkan Diagnosa Klinis dan Sosial Pediatri, Gizi Indonesia, 1990;15(2): 1-14
13.         WHO. Child Growth Standard. Length/height for age, weight for length- weight for   height and body mass indexes for age. Methods and Development.  Department of Nutrition for Health and Development. 2006.
14.         Keadaan dan masalah Gizi di Indonesia. Info pangan dan Gizi.1993;4(4): 8
15.         WHO. Description. http://www.who.int/en  unduh 12 agustus 2008
16.         Onis, MD. WHO Child Growth Standards.  Acta Paediatrica, 2006; 450: 5-6
17.         Reliability of anthropometric measurement in WHO MGRS. WHO-MGRS Group. Acta Paediatrica, 2006; 450: 38-46
18.         Assassement of differences in linier growth among populations in the WHO MGRS. WHO-MGRS Group. Acta Paediatrica, 2006; 450: 56-65
19.         Herve A. Z-Soress. http://www.uark.edu./  Unduh 12  Agustus 2008
20.         Relationship between physical growth and motor development in the WHO Child Growth Standards. Acta Paediatrica, 2006; 450: 96-101
21.         Jahari AB. Nutritional Status Assessment and Method. Gizi Indonesia, 2002;26:24-31

Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak.


Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak.
By
Fauzi ’Arasj

1. Asupan Zat Gizi
Secara umum kejadian gizi kurang disebabkan oleh karena tidak cukupnya asupan zat gizi sehari, serta kondisi keluarga yang miskin, kurangnya konsumsi makanan dan defisiensi zat gizi mikro, penyakit infeksi, pola pemberian PASI yang terlalu dini dan perawatan kesehatan anak, BBLR, kemiskinan akibat krisis ekonomi, politik dan sosial. 

2. Diare
Diare akut adalah buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasa (>= 3 kali sehari) dan umumnya berlangsung kurang dari 14 hari.   Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui makanan/minuman yang tercemar tinja atau kontak langsung dengan tinja penderita di tambah dengan beberapa perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman dan meningkatkan risiko terjadinya diare antara lain adalah  tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama kehidupan anak, menggunakan botol susu yang tidak bersih, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan setelah buang air besar serta tidak membuang tinja dengan benar di samping karena kurang gizi.
Diare merupakan salah satu penyebab    utama morbiditas dan mortalitas pada anak selama 2 tahun pertama kehidupan. Prevalensi diare pada balita mencapai 10%, umumnya disebabkan oleh  shigella, Salmonella, Vibrio cholera, clostridium, alergi terhadap makanan,  infeksi retovirus   dan efek penggunaan obat yang menyebabkan terjadinya perubahan pada mikrovili usus sehingga menimbulkan defisiensi enzim laktase sekunder yang di produksi  oleh ujung mikrovili, di ikuti dengan gagalnya pencernaan terhadap laktosa. Infeksi retovirus  yang masuk melalui makanan  merupakan penyebab utama kejadian diare pada bayi dan anak anak di seluruh dunia.
Diare akut terjadi selama 1-2 hari dan akan dapat berhenti dengan sendirinya dengan atau tanpa pengobatan, sedangkan diare kronis bila kejadian diare secara terus menerus  selama lebih dari 2 minggu. Kejadian diare juga dipengaruhi oleh faktor infeksi saluran pencernaan, umur, gizi, lingkungan, susunan makanan.  Rentang frekuensi  diare berkisar antara 3-8 kali dalam 24 jam, dengan rerata lama kejadiannya 3,1 hari,   di sertai bentuk feses yang  lunak dan cair dan sering kali diikuti dengan kejang perut. Diare yang disebabkan oleh infeksi E Coli, berasal  dari sumber air yang kurang bersih Bakteri E Coli, masuk dan berkembang di usus besar dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan diare, akibatnya daya kerja usus jadi berkurang dalam menyerap zat gizi yang di konsumsi, jika di ikuti dengan dehidrasi akan dapat menyebabkan kematian.  Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap akan menarik air dari dinding usus disertai dengan proses transit di usus yang pendek, mengakibatkan air dari makanan tidak dapat diserap sehingga feces menjadi berair. Bersamaan dengan itu tubuh juga akan kehilangan elektrolit sehingga akan mudah menjadi dehidrasi.

3. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan penyebab utama kematian di bawah usia 5 tahun diberbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Etiologi bakteri penyebabnya antara lain genus streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, hemofilus, borndetela dan korinebackterium, sedangkan virus penyebabnya antara lain golongan miksovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan penyakit. Saluran pernafasan adalah organ tubuh semenjak dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Secara  anatomis, ISPA mencakup saluran pernafasan bagian bawah termasuk jaringan paru dan jaringan adneksanya, dengan demikian jaringan paru termasuk saluran pernafasan. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari dan kronis lebih dari 14 hari.

4. Status Ekonomi
Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan individu atau keluarga untuk merealisasikan kebutuhannya, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan  membatasi kesempatan individu atau keluarga untuk memilih makanan dan gizi yang lebih baik. Keluarga dengan pendapatan rendah, membelanjakan pendapatannya secara lebih proporsional untuk makanan di banding dengan keluarga dengan pendapatan tinggi, makin baik pendapatan keluarga akan makin baik kesempatan untuk mendapatkan makanan yang bergizi, dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik, keluarga miskin relatif rawan terhadap pangan dan dengan meningkatnya harga bahan makanan telah meningkatkan tingkat kerawanan pangan serta memperburuk tingkat kesejahteraan keluarga.
Studi di Honduras menemukan prevalensi anak pendek lebih tinggi bermakna pada keluarga miskin di banding dengan keluarga kaya. Studi yang dilakukan di Amerika, menemukan anak yang berasal dari keluarga miskin lebih pendek dan lebih kurus daripada anak yang berasal dari keluarga kaya, di samping ditemukan tingginya prevalensi anemia. Kekurangan gizi berhubungan dengan panjang/tinggi badan anak, kebanyakan anak pendek berasal dari keluarga miskin walau dari etnis yang sama, dengan demikian jelas terlihat bahwa status gizi berhubungan dengan pendapatan keluarga/kemiskinan.   Studi yang dilakukan di Etiopia menemukan angka anak pendek dari keluarga sangat miskin lebih tinggi daripada keluarga miskin, sedangkan pada keluarga kaya kejadiannya lebih rendah, anak dari keluarga miskin mempunyai risiko untuk jadi pendek 2 kali lebih tinggi dari anak yang berasal dari keluarga kaya.
Studi yang dilakukan di Brazil menemukan bahwa kondisi ekonomi keluarga di daerah rural tidak berpengaruh secara bermakna dengan data antropometri anak dan kondisi sosial budaya lebih memberi dampak terhadap status gizi daripada keadaan ekonomi, sebaliknya di daerah urban pendapatan merupakan faktor risiko untuk terjadinya gizi kurang. Anak dari keluarga miskin ukuran antropometrinya lebih rendah di banding dengan anak dari keluarga kaya. Anak usia 5-6 tahun yang berasal dari keluarga miskin lebih pendek, lebih ringan dan ukuran lingkar lengan atasnya (LILA) lebih kecil (p<0,05) di bandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga ekonomi menengah dan kaya. 
Kejadian gizi kurang pada keluarga miskin kulit hitam  di Afrika Selatan angkanya lebih tinggi  pada laki-laki daripada wanita. Kemiskinan merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya prevalensi gizi kurang di Sub-Sahara Afrika.  Studi di negara miskin menemukan bahwa status gizi dan kondisi kesehatan yang baik pada saat bayi berhubungan positif dengan tinggi individu waktu dewasa. Pertumbuhan anak usia 6-10 tahun di Kuala Lumpur, menemukan 50% anak stunted dan 30% anak wasted berasal dari keluarga miskin. Tingginya pendapatan keluarga di Kuwait dihubungkan dengan kualitas asupan makanan dan berubahnya pola makan, diantaranya dengan mengkonsumsi minuman ringan, coklat, dan makanan siap saji serta terjadinya peningkatan asupan protein, sehingga mempercepat terjadinya obesitas pada anggota keluarga yang lebih dewasa. Ketidak seimbangan pendapatan akan berpengaruh terhadap kesehatan individu. Kejadian kurang gizi kronis merupakan indikasi terjadinya penurunan tingkat pendapatan.
 
5. Jumlah anggota keluarga
Keluarga didefinisikan sebagai sekelompok orang yang terdiri dari bapak, ibu dan anak yang belum menikah serta tinggal bersama, menyatukan sumberdaya mereka dan makan bersama-sama dalam satu dapur. Namun kenyataannya tidak semua kondisi itu selalu harus ada, karena ada keluarga berbagi tempat tinggal dan sumberdaya dengan kerabat atau orang lain, dan atau karena migrasi semakin menjadi kecenderungan di masyarakat, sehingga jumlah anggota keluarga tidak selalu bertalian dengan kedekatan fisik, tetapi mungkin melalui kebertalian  fungsional. Kondisi ini berkaitan erat dengan  pola konsumsi dan distribusi makanan di dalam keluarga, keputusan mengenai apa yang di konsumsi dan jumlah yang di konsumsi berkaitan dengan banyaknya anggota keluarga yang ada.

6. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki status gizi anak yang gizi kurang adalah dengan memberikan makanan tambahan, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan zat gizi dari yang telah di konsumsi, sehingga asupan zat gizi mencapai batas optimal sesuai umur. Suplemen yang diberikan hendaknya setelah melalui perhitungan yang tepat dan sebaiknya menggunakan bahan lokal, hal ini dimaksudkan agar PMT yang diberikan tidak mendapat penolakan dari subjek.
Penelitian tentang pemberian biskuit tinggi lemak (378 Kkal)  dan biskuit  tinggi karbohidrat (404 Kkal) selama 12 bulan,  pada anak pra sekolah yang pendek di Gambia, menunjukkan bahwa pemberian biskuit tinggi lemak dan tinggi karbohidrat tidak mempunyai dampak terhadap panjang badan atau berat badan. Suplementasi dengan biskuit tinggi lemak hanya memberikan sedikit peningkatan atas deposit lemak. 
Suplementasi penambahan susu pada makanan anak yang kurang gizi yang dilakukan di Alabama, Scotland serta New Guinea,  menunjukkan adanya respon pertumbuhan. Penelitian seri penambahan seng pada anak pendek menunjukkan hasil yang positif, seperti penelitian yang dilakukan di Colorado memperlihatkan terjadinya pertumbuhan anak pendek yang lebih cepat, dan studi yang dilakukan di Ontario menemukan  25% dari anak anak yang diberi seng menunjukkan hasil yang positif terhadap pertumbuhan anak pendek.
Penelitian menggunakan tepung kering LGG 107 CFU/g yang disuplementasikan ke dalam makanan formula selama 3 bulan pada anak sehat umur di atas 3 bulan, hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang diberi suplementasi dengan makanan formula yang di tambah dengan LGG, terjadi pertambahan panjang badan dan berat badan secara bermakna pada kelompok perlakuan di banding dengan kelompok kontrol yang hanya menerima makanan formula saja, terdapat perbedaan frekuensi defekasi secara bermakna antara  kelompok perlakuan dan kelompok kontrol serta kolonisasi lactobacillus pada kelompok perlakuan lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bayi yang diberi makanan formula yang diperkaya dengan LGG mempunyai pertumbuhan yang lebih baik daripada kelompok kontrol.

Kepustakaan:

  1. Laude  M. Assessment of Nutritional Status, Cognitive development and Mother-Child Interaction in Central America Refugee Children.  Am. J. Public Health 1999; 6(3).
  2. Unicef. Malnutrition in South Asia, A Regional Profile. Uniceff Regional Office For South Asia. 1997, 1-9
  3.  Roy S.K. Complementary Feeding in South Asia. In Uniceff. Malnutrition in South Asia, A Regional Profile. Uniceff Regional Office For South Asia, 1997
  4. Departemen Kesehatan RI.  Rencana Aksi Pangan Dan Gizi. Jakarta. 2000
  5. Sulistomo. Diare, penyakit perut pada balita. http://www.sulistomo.com   Unduh 16 agustus 2008
  6. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jendral PPM dan PL. Keputusan Menkes RI No 1212/Menkes/SK/XI/2001 tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta 2002
  7. Syam AF, Arijanti L. Penyebab  Diare Dan Gejala Diare. http://medicastore.com  unduh 16 Agustus 2008
  8. Juntunen M, Kirjavainen PV,  Ouwehand AC, Salminen SJ,  Isolauri E. Adherence of probiotik bacteria to human intestinal mucus in Healthy infants and during rotavirus infection. Clinical and diagnostic laboratory immunology, 2001: 8(2): 293–296
  9. Diarrhea. National Institue of Health. US Department oh Health and Human Services. NIH Publication 2007;07:2749. www.digestive.nddk.nih.gov
  10. Barlianto W. Terapi sinbiotik terhadap Diare akut dengan intolerensi laktosa sekunder. Bagian IKA, FK-Undip. 2005
  11. Irianto J. Prediksi keparahan Diare menurut faktor yang berpengaruh pada anak balita di Indonesia.
  12. Syam AF, Arijanti L. Jangan anggap remeh Diare. http://medicastore.com   unduh 16 agustus 2008
  13. Calgary Health Region. E.Coli 0157:H7, Content review date: juli, 2007.  http://www.calgaryhealthregion.ca/
  14.   Calgary Health Region. Testing for infections diarrhea. content review date: Januari, 2004.  http://www.calgaryhealthregion.ca/
  15.   Rasmalah. Infeksi saluran nafas akut (ISPA) dan penanggulangannya. FKM-USU, 2004
  16. Departemen Kesehatan RI. Pengertian ISPA dan Pneomonia. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan akut untuk Penanggulangan Pneomonia pada balita.  http://www.halalguide.info/content/view/396/734/
  17. The Epidemiologiy of acute respiratory infections in children and adults. A Global perspective. Epidemiol.rev, 1990; 12:149-78. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/
  18. Ujang S, Dadang S. Analisis Ketahanan pangan keluarga dan Kesejahtreraan keluarga, dalam Media gizi dan Keluarga. 1998; 22(1): 31-38
  19. Meyers AF; Karp RJ. Poverty, Food Insecurity, and Obesity in Children. 2006;118;2265a-2266 Pediatrics.  http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/118/5/2265a
  20. Maxwell D, Levin C, Klemesu MA, Ruel M, Morris S, Ahiadeke C.  Urban livelihoods and Food and nutrition security In greater accra, Ghana. Research report 112 april 2000. International Food Policy Research Institute 2033 k Street, NW. Washington, DC. 20006-1002. http://www.ifpri.org
  21. Thaha AR. Anak Anak Indonesia, Dari Kemiskinan Struktural Hingga Kemiskinan Herediter Pengukuhan Guru Besar Universitas Hasanudin. 2003
  22. Kotch J, Shackelford J.  The Nutritional Status of Low-income Preschool Children in The United States: a Review of The Literature. Food Research and Action Center, Washington, Juni 1989
  23. Girma W, Timotiows G. Determinants of Nutritional Status of Women and Children in Ethiopia. Ethiopia Health and Nutrition Research Institute, Addis Ababa, Ethiopia. 2002;11
  24. Molina M, Carmen B, Gross R, Bern S, Maria A. Nutritional status of Children of Urban Low-income communities, Brazil. Rev. Saude Publ. S Paulo, 1989;23(2):89-97
  25.  Meyers AF, Diana C, Frank DA, Levenson S, Skalicky A. Subsidized Housing and Children’s Nutritional Status. Arch Pediatr Adolesc Med. 2005;159:551-556
  26. Akhtar MS, Bhatty N, Sattar M, Javed M.  Comparison Of  Nutritional Status In Children Of Different Socio-Economic Statuses. Medical Journal of Islamic Academy of Sciences 14:3, 97-102, 2001
  27. Christie CJ. Consideration of the effect of nutritional status and disease patterns on the work output amongst Black South African workers involved in manual materials handling (MMH) tasks. http://biblioteca.universia.net
  28. Xiao Ye. Findings, African Region. Status Report on Poverty in Sub-Saharan Africa, 1997, Tracking the Incidence and Characteristics of Poverty. World Bank, 1818 H Street NW, Washington, DC. 1998
  29. Akachi Y,  Canning D. Childhood Health, Nutrition, and Average Adult Height in Low-Income Countries. Harvard School of Public Health. Unduh  Agust 2006
  30. 83.  Shariff ZM, Bond JT, Johson NE.  Nutritional Status of Primary School Children from Low Income Households in Kuala Lumpur. Mal J Nutr. 2000;6 : 17-32
  31. 84.  Amine EK,  Al-Awadi FA  Nutritional status survey of preschool children in Kuwait . Eastern Mediterranean Health Journal, 1996; 2(3): 386-395
  32. 85.  Godoy R, Byron E, GarcĂ­a VR, Vadez V, Leonard WR, et all. Income inequality and adult nutritional status: Anthropometric evidence from a pre-industrial society in the Bolivian Amazon. Social Science & Medicine. 2005;61: 907-919. Unduh September 2008
  33. 86.  Hakeem R. Socio-economic differences in height and body mass index of children and adults living in urban areas of Karachi, Pakistan.  Eur J Clin Nutr. 2001;55(5):400-6
  34. 87.  Allen LH. Cause Nutrition related Public Health Problem of pre-school children: available diet. JPGN, 43:s8-s12
  35. 88.  Michael HN.  Spesific Deficiencies Versus Growth Failure Type I and Type II Nutrients. Joint Symposium of Nutrition and Dep of Pediatric Fac of medicine, 11 Maret University and Centre of Human Nutrition, Univ Sheffield, UK. Surakarta, Indonesia, 2001
  36. 89.  N. Vendt, H. Grunberg, T. Tuure, O. Malminiemi, E. Wuolijoki, V. Tillmann, E. Sepp and R. Korpela. Growth during the first 6 months of life in infants using formula enriched with Lactobacillus rhamnosus GG: double-blind, randomized trial. J Hum Nutr Dietet, 2006;19: 51–58